Peradaban Islam Nusantara | Sejarah Kelas X - Latiseducation

Peradaban Islam Nusantara | Sejarah Kelas X

Konsep Pelajaran 128

Peradaban Islam Nusantara meliputi jaringan perdagangan antarpulau, kerajaan Islam, serta akulturasi perkembangan kebudayaan Islam.

Sahabat Latis, setelah kerajaan-kerajaan Hindu-Budha runtuh, secara perlahan, peradaban Islam mulai masuk dan tersebar di seluruh nusantara.

Banyak yang berasumsi bahwa Islam masuk ke Nusantara dengan berbagai macam cara. Ada yang menempuh jalur perdagangan, dibawa dari Persia atau negeri Arab lainnya, dll.

Untuk lebih jelasnya, mari kita simak ulasan berikut sampai selesai.

Peradaban Islam Nusantara

Peradaban Islam Nusantara dapat diketahui melalui proses masuk dan berkembangnya Islam di Nusantara, kerajaan-kerajaan Islam yang berdiri di masa itu, dan akulturasi perkembangan kebudayaan Islam.

Peradaban Islam Nusantara

A. Proses Masuk dan Berkembangnya Islam di Nusantara

Sahabat Latis, terdapat beberapa pendapat yang menjabarkan tentang proses masuk dan berkembangnya Peradaban Islam Nusantara.

Pendapat pertama mengatakan bahwa Islam berasal dari Gujarat. Pendapat kedua mengatakan bahwa Islam berasal dari Persia. Sedangkan pendapat ketiga mengatakan bahwa Islam berasal dari Tanah Arab atau Mesir.

Pendapat Pertama

Pendapat pertama tentang proses masuk dan berkembangnya Islam dikemukakan oleh para sarjana barat dari Negeri Belanda.

Mereka mengatakan bahwa ajaran Islam yang masuk ke Indonesia berasal dari Gujarat yang datang pada abad ke-13 Masehi.

Pendapat ini juga menjabarkan bahwa Gujarat merupakan sebuah wilayah yang terletak di bagian barat India yang berdekatan dengan Laut Arab.

Islam tersebar hingga ke nusantara melalui jalur perdagangan. Hal tersebut didukung oleh penemuan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang wafat di Pasai pada 17 Dzulhijjah 831 H atau 1297 M.

Pendapat Kedua

Pendapat kedua dikemukakan oleh Hoesein Djajadiningrat. Beliau mengatakan bahwa Islam masuk ke Indonesia berasal dari Persia (Iran).

Beliau berpendapat demikian karena adanya persamaan tradisi dan budaya yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Indonesia dan Persia.

Seperti halnya tradisi perayaan 10 Muharram atas kematian Husein bin Ali yang diperingati oleh kaum Syiah. Ini sama halnya dengan tradisi Tabot di Bengkulu dan Pariaman.

Pendapat Ketiga

Pendapat yang ketiga dikemukakan oleh Buya Hamka. Beliau mengatakan bahwa Islam berasal dari tanah Arab atau Mesir sebagai tanah kelahirannya.

Proses ini berlangsung pada abad pertama Hijriah atau abad ketujuh Masehi. Pendapat tersebut diperkuat oleh Anthony H. Johns. Beliau menuturkan bahwa proses Islamisasi dilakukan oleh para pendatang yang berkunjung ke Kepulauan Indonesia.

Biasanya, mereka mengembara dari satu tempat ke tempat lain dengan tujuan untuk mengembangkan agama Islam.

Peradaban Islam Nusantara

B. Kerajaan-Kerajaan Islam di Indonesia

Berdasarkan persebarannya, kerajaan Islam terbagi atas beberapa wilayah seperti Kerajaan Islam di Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara.

1. Kerajaan Islam di Sumatera

Kerajaan Islam di Sumatera meliputi Kerajaan Samudra Pasai dan Kesultanan Aceh Darussalam.

Berdasarkan catatan Tomé Pires yang terdapat dalam Suma Oriental (1512-1515) tertulis bahwa di sepanjang pesisir barat Sumatera dan pesisir Selat Malaka dan terdapat banyak kerajaan Islam. Mulai dari kerajaan yang kecil hingga kerajaan Islam yang sudah berkembang dengan sangat pesat.

Kerajaan-kerajaan tersebut adalah Kerajaan Aceh, Aru, Biar dan Lambri, Pirada, Pedir, Pase, Arcat, Rupat, Kampar, Siak, Indragiri, Tongkal, Jambi, Palembang, Andalas, Tiku, Barus, Pariaman, dan Minangkabau.

Kerajaan Samudra Pasai

Samudera Pasai diperkirakan tumbuh dan berkembang pada pertengahan abad ke-13. Kerajaan ini terletak sekitar 15 KM di sebelah timur Lhokseumawe, Nanggroe Aceh Darussalam.

Adapun sultan pertama yang memimpin kerajaan ini adalah Sultan Malik as-Shaleh. Beliau wafat pada tahun 696 H atau 1297 M.

Setelah kepemimpinan Sultan Malik as-Shaleh, Kerajaan Samudera Pasai dipimpin oleh Sultan Muhammad Malik Zahir (1297-1326 M), Sultan Mahmud Malik Zahir (± 1346-1383 M), Sultan Zainal Abidin Malik Zahir (1383-1405 M), Sultanah Nahrisyah (1405-1412 M), Abu Zain Malik Zahir (1412 M), da Mahmud Malik Zahir (1513-1524 M).

Kesultanan Aceh Darussalam

Kesultanan Aceh berhasil memasukkan beberapa kerajaan kecil menjadi bagian dari mereka di bawah kepemimpinan Sultan Ali Mughayat Syah.

Setelah wafat, Sultan Ali Mughayat Syah digantikan oleh Sultan Alauddin Riayat Syah al-Qahhar dan Sultan Iskandar Muda.

2. Kerajaan Islam di Jawa

Kerajaan Islam di Jawa meliputi kerajaan Demak, Kerajaan Mataram, dan Kesultanan Banten.

Kerajaan Demak

Kerajaan Demak diperkirakan berdiri pada tahun 1.500 Masehi. Seperti yang kita ketahui, Kerajaan Demak dipimpin oleh sembilan wali atau wali songo.

Para Wali Songo tersebut adalah Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), Raden Rahmat (Sunan Ampel), Ja’far Shadiq (Sunan Kudus), Muhammad Ainul Yakin (Sunan Giri), Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati), Raden Said (Sunan Kalijaga), Raden Umar Said (Sunan Muria), Raden Maulana Makdum Ibrahim (Sunan Bonang), dan Raden Qosim (Sunan Drajat).

Kerajaan Mataram

Kerajaan Mataram berdiri setelah tumbangnya Kerajaan Demak. Adapun raja yang memimpin saat itu adalah Sultan Hadiwijaya, Pangeran Benowo, Sultan Agung, dan lainnya.

Kesultanan Banten

Kerajaan Demak berekspansi sampai ke kawasan pesisir pulau Jawa. Sehingga, berdirilah Kerajaan Banten di bawah kepemimpinan Fatahillah. Beliau merupakan putra dari Sunan Gunung Jati.

3. Kerajaan Islam di Kalimantan

Kerajaan Islam di Kalimantan meliputi Kesultanan Pasir (1516 M), Kesultanan Banjar (1526-1605 M), Kesultanan Kotawaringin, Kerajaan Pagatan (1750 M), Kesultanan Sambas (1671 M), Kesultanan Pontianak (1771 M), Kesultanan Kutai Kartanegara, Kesultanan Berau, Kesultanan Sambaliung (1810 M), Kesultanan Gunung Tabur (1820 M), Kesultanan Tidung, dan Kesultanan Bulungan.

4. Kerajaan Islam di Sulawesi

Kerajaan Gowa perlu dicatat sebagai perjalanan sejarah Sultan Hasanudin dalam memerangi Belanda. Beliau berusaha untuk mempertahankan kedaulatannya dari penjajahan politik Belanda (VOC).

Pada akhirnya, kerajaan Gowa diblokir oleh VOC dan dibebaskan dengan perjanjiannya Bongaya di tahun 1667. Sayangnya, pihak yang paling dirugikan di sini adalah kerajaan Gowa dan Tallo.

5. Kerajaan Islam di Maluku

Kerajaan Islam di Maluku meliputi Kerajaan Ternate dan Tidore. Selama masa peradaban Islam Nusantara di Maluku, terdapat beberapa perkembangan yang begitu pesat.

Beberapa di antara perkembangan tersebut adalah perkembangan seni pahat, seni patung, seni bangunan, dan bahasa.

6. Kerajaan Islam di Papua

Kerajaan Islam di Papua meliputi Kerajaan Waigeo, Kerajaan Misool, Kerajaan Salawati, Kerajaan Sailolof, Kerajaan Fatagar, Kerajaan Rumbati, Kerajaan Kowiai, Kerajaan Aiduma, dan Kerajaan Kaimana.

7. Kerajaan Islam di Nusa Tenggara

Selaparang merupakan suatu daerah di Nusa Tenggara yang menjadi pusat perkembangan kerajaan Islam di bawah kepemimpinan Prabu Rangkesari.

Prabu Rangkesari membuat kemajuan yang sangat pesat hingga Islam berkembang dengan begitu mudah ke seluruh penjuru Nusa Tenggara. Di antaranya adalah Bayan, Pejanggik, Sokong, Parwa, dan lainnya.

Peradaban Islam Nusantara

C. Akulturasi Perkembangan Kebudayaan Islam

Sahabat Latis, akulturasi perkembangan kebudayaan Islam dapat kita lihat dari seni bangunan berupa masjid, menara, dan makam.

Selain itu, terdapat juga seni ukir, seni sastra dan aksara, kesenian, serta sistem penanggalan (kalender).

Seni Bangunan

Akulturasi perkembangan kebudayaan Islam dapat dilihat dari seni bangunan yang masih ada hingga saat ini. Mulai dari bentuk mesjid, menara, dan adanya makam-makam sebagai bukti perjalanan Islam di masa lalu.

Seni Ukir

Seni ukir atau seni hias juga berkembang seiring dengan kedatangan Islam. Kita dapat menjumpai beragam jenis seni ukir yang menghiasi mesjid dengan begitu indahnya.

Seni Sastra dan Aksara

Beberapa jenis bentuk seni sastra dan aksara hasil dari Peradaban Islam Nusantara yang bisa kita jumpai hingga saat ini adalah hikayat, babad, syair, dan suluk.

Kesenian

Kesenian juga ditujukan untuk menyebarkan nilai-nilai Islam. Ini juga membuktikan bahwa Islam itu agama yang kaya dengan kebudayaan dengan adanya permainan debus, seudati, dan wayang.

Sistem Penanggalan (Kalender)

Sistem kalender itu juga memiliki pengaruh yang kuat di Indonesia. Bukti yang paling nyata tentang kalender tersebut adalah sistem penanggalan yang diciptakan oleh Sultan Agung.

Beliau mengganti bulan Muharram dengan Sura dan Ramadhan diganti dengan Pasa.

Baca juga: supercampalumniui.com

Gimana Sahabat Latis, udah mulai paham kan dengan materi Peradaban Islam Nusantara?

Supaya kamu makin paham dengan materi lainnya, bisa jawab PR dan tugas di sekolah dengan mudah dan prestasi kamu meningkat tajam, kamu bisa coba ikutan les privat Latiseducation lho!

Gurunya berprestasi dan biayanya juga hemat. Bisa online dan tatap muka juga. Fleksibel kan? Untuk info lebih lanjut, kamu bisa hubungi Latiseducation di line chat 085810779967.

Sampai ketemu di kelas!

les privat

 

Referensi:

Buku Sejarah Indonesia untuk SMA/MA/SMK Kelas X tahun 2014 oleh Kemendikbud.



Beri Komentar

wa